Nove Magnifico

200pxlega_calcio Di puncak kejayaannya dulu (akhir 90-an), Serie A mengenal istilah "Sette Magnifico" untuk menyebut tujuh klub papan atas yang selalu bersaing merebut scudetto. Selain Juventus, Inter, Roma dan Milan, terdapat juga tiga klub kuat dalam diri Lazio, Fiorentina dan Parma. Mereka berkali-kali merusak "bursa" juara dengan menyelip di antara tim langganan juara.

Namun akibat krisis finansial, kekuatan "kelompok tujuh" tersebut mulai goyah. Lazio bangkrut usai menjuarai Serie A di tahun 2000. Menyusul kemudian Fiorentina yang bahkan terjerembab sampai lembah Serie C-2. Parma juga kehilangan grip-nya sebagai klub kuat, dengan merosotnya kekuatan finansial nan berbanding lurus dengan posisi mereka di klasemen. Kulminasinya adalah musim lalu ketika akhirnya klub yang sempat membesarkan Fabio Cannavaro dan Hernan Crespo itu harus turun kasta ke Serie B.

Skandal calciopoli yang merebak di tahun 2006 makin menenggelamkan citra Serie A. Klub yang secara tradisional mengeluarkan uang banyak di pasar pemain, tiba-tiba menjadi pasif. Ini memunculkan ketidakseimbangan kekuatan yang akhirnya menciptakan dominasi Internazionale dan AS Roma, dua klub besar yang tak terimbas calciopoli.

Perlahan tapi pasti, Serie A terus meregenerasi diri, bangkit dari keterpurukan finansial. Momentum usai Piala Dunia 2006 menjadi ajang renaisans-nya, yakni musim 2007/2008. Hal itu ditandai dengan naiknya klub-klub tradisional dalam musim berikutnya. Genoa dan Napoli promosi ke Serie A, mendampingi Juventus usai masa pengasingannya di Serie B. Tiga klub promosi itu mempunyai tradisi yang kuat di Serie A. Genoa adalah 9 kali juara liga, dan merupakan klub tertua di Italia. Sementara Napoli masih menyimpan hangatnya memori ketika Diego Maradona membawa I Partenopei merusak dominasi klub utara di akhir 80-an. Juventus tentu akan kembali meramaikan persaingan Internazionale dan Roma.

Hasil di akhir musim 2007/2008 sangat jelas menujukkan indikasi perbaikan. Meski juara, Internazionale harus melewati jegalan-jegalan dari klub yang musim sebelumnya bisa gampang dilewati. Demikian juga dengan Roma. Musim lalu mencatat kebangkitan fenomenal AC Fiorentina, dengan meraih kembali kasta tingginya ketika finish di urutan 4.

Tiga klub promosi juga mencetak hasil bagus. Napoli menunjukkan sepakbola atraktif dan mampu lolos ke Piala UEFA lewat jalur Intertoto. Sementara Genoa menghasilkan Marco Borriello sebagai pencetak gol subur. Juventus? Si Nyonya Tua tak perlu lama untuk menegaskan eksistensinya, dengan langsung merebut posisi 3 untuk lolos ke Liga Champions. Di bawah itu masih ada kekuatan lainnya, yakni Milan, disusul oleh Udinese yang lolos ke Piala UEFA.

Musim ini, klub-klub yang musim lalu bersaing sengit melakukan pembenahan lebih awal. Sejumlah investasi ke pemain bagus mulai dilakukan lagi. Internazionale mendatangkan Jose Mourinho guna meneruskan dominasi yang telah direngkuh di bawah pelatih Roberto Mancini, tiga musim sebelumnya. Mereka juga memecahkan rekor pembelian termahal di Serie A, atas nama pemain FC Porto, Ricardo Quaresma. Inter masih akan tetap menjadi kandidat terdepan peraih juara liga.

AS Roma relatif masih mempertahankan skuad yang mulai menuai masa keemasan. Mereka menambah amunisi dengan tiga pemain berkualitas. Yang paling menonjol tentu Julio Baptista, pemain Brasil yang dulu bersinar bersama Sevilla. Bersama dengan John Arne Riise dan Jeremy Menez, Baptista akan melengkapi tim yang memiliki permainan atraktif ini. Setelah dua kali di bawah Inter, tentu ambisi mereka akan lebih tinggi.

Juventus juga berbenah menyusul kembalinya mereka ke kancah Liga Champions. Investasi terbesar Juve adalah dalam sosok bernama Carvalho Amauri yang merupakan pemain kedua termahal di Serie A musim ini. Pemain termahal ketiga hadir di kubu AC Milan yang tak lolos ke Liga Champions. Mereka mendaratkan superstar Brasil, Ronaldinho, beserta dengan bintang lain semacam Andriy Shevchenko dan Gianluca Zambrotta.

Kekuatan 4 tim itu akan coba diusik oleh "new emerging forces". Fiorentina adalah yang terdepan. Mereka adalah klub yang paling banyak membelanjakan uang untuk pemain. Alokasi termahal ada di dalam diri playmaker belia asal Montenegro, Stevan Jovetic, dan penyerang tim nasional Italia, Alberto Gilardino. Kepastian lolos ke Liga Champions membuat Viola berbenah.

Di samping Fiorentina, liga juga hampir pasti akan dimeriahkan dengan stabilnya kekuatan Napoli, Sampdoria dan Udinese. Mereka tak banyak membeli pemain, namun sukses mempertahankan para bintangnya yang diincar klub-klub besar dari luar Serie A. Ezequiel Lavezzi, Antonio Cassano dan Gokhan Inler adalah contoh sukses para bintang menanjak itu untuk terus menjadi truf klub-klub Serie A. Kebangkitan Lazio juga layak menjadi catatan, ketika kebijakan salary cap mulai membawa klub kota Roma itu keluar dari krisis finansial.

Kiprah klub-klub yang mulai mapan itu tentu menggembirakan buat pecinta calcio. Memori publik mulai kembali ke Serie A di era "Sette Magnifico". Lebih seru malah ketika klub yang setanding makin banyak. Di pekan pertama, ramainya nine horse race ini memberi bukti. Inter dan Roma bisa diimbangi Sampdoria dan Napoli. Sementara Juventus terbukti sama tangguh dengan Fiorentina. AC Milan malah dipermalukan klub promosi, Bologna. Klub-klub papan atas tak ada yang meraih kemenangan. Hasil terbaik justru diukir Lazio, ketika memukul Cagliari di Sardinia. Ini mungkin akan memberikan sedikit preseden tentang Serie A 2008/2009. Ramai, sengit dan penuh kejutan.

So, benvenuto Serie A!

                            

Death Magnetic Preview

Death_magnetic_black_800 Sama seperti kebanyakan penggemar Metallica, album terakhir mereka memang berujung pada kekecewaan yang mendalam. St. Anger (2003) yang digadang-gadang sebagai album pertama rilis setelah Reload (1998) ternyata jauh dari ekspektasi. Terutama dengan miskinnya aspek melodi di dalam album tersebut. Hampir semua mengisi fill ritem monoton dan menimbulkan kebosanan luar biasa ketika mendengarkannya. Saya ingat ketika "listening party" bersama teman-teman kuliah yang juga menggemari Metallica. Sekitar lagu kedua saya sudah pulas tertidur rasanya.

13 September esok, Metallica rencananya akan merilis album studio mereka yang ke-9, berjudul 'Death Magnetic". Banyak skeptisme yang menyelimuti proses pembuatannya, seiring dengan kekecewaan pada St. Anger lampau. Tapi Metallica tetap Metallica. Sebuah situs menyebut jika highlight dunia metal tahun ini akan banyak dipengaruhi rating album Metallica yang baru. Dan memang benar, karena antisipasi Death Magnetic sangat besar.

Sejauh ini, Metallica hanya merilis dua buah single dari album baru untuk konsumsi publik. Yakni "The Day That Never Come" dan "My Apocalypse". Satu hint lagi sudah muncul beberapa bulan yang lalu ketika mereka reguler membawakan "Cyanide" (yang juga masuk dalam Death Magnetic) dalam konser. Thanks to technology, lagunya sudah menyebar, dan ini review saya atas 3 lagu yang berhasil di-sneek-peek:

01. The Day That Never Come
Singel perdana. Saya sempat preview di hari pertama launching melalui iTunes. Lagu ini melodis sekali, di awali dengan alunan gitar. Mengingatkan ballad sohor dari Metallica di masa lalu semacam One atau Fade to Black. Vokal masuk di tempo slow, kemudian moderate di refrain, dan perlahan makin naik di separuh lagu. Akhir lagu adalah deru ritem. Sebuah struktur klasik lawas Metallica yang bisa dijumpai di era kebesaran mereka. Namun beat-nya masih terlalu moderate, kurang "speed metal" alias kurang cepat. Secara tempo bisa dikomparasi dengan Unfogiven II dari album Reload. Upbeat. Konsep ini (memang) gampang dicerna. Mungkin itu sebabnya lagu ini jadi single perdana. Satu-satunya keluhan yang muncul hanya di drum part, terutama ketika pertiga bagian akhir di mana tempo mestinya cepat. Fill drum Ulrich terlalu flat dan menghasilkan sound seperti St. Anger. Beruntung fill melodinya (dari departemen gitar dan vokal) bekerja dengan baik.

02. My Apocalypse
Single kedua yang sedikit bikin down setelah terbuai dengan The Day That Never Come. Ini seperti edisi revisi St. Anger, yang didominasi ritem, tetapi sekarang sedikit memasukkan unsur melodi (lagi-lagi hanya dari gitar). Kekecewaan masih serupa dengan "The Day" yakni fill drum yang repetitif dan flat (so St. Anger!). However, bagi yang totally skip St. Anger, nuansa ol-skool speed metal sedikit terasa di sini. Mungkin memang itu yang dimaksud blurb St. Anger dulu yang bilang bahwa Metallica "back to basic". Hanya saja dulu sangat miskin melodi. Death Magnetic adalah revisinya. Singel kedua ini buktinya. Saya berasumsi lagu tipe ini bakal mendominasi album nantinya.

03. Cyanide
Sebetulnya bukan single, melainkan versi live. Jadi outtake studio nantinya bisa berbeda. Tapi lagu ini malah menjadi yang paling catchy menurut pendapat saya. Intro mengingatkan saya ke Leper Messiah. Fill drum dan bass di awal juga lebih variatif dan nggak menggiring ke kebosanan ritmis. Strukturnya mengingatkan seperti lagu-lagu Metallica di era Load/Reload semacam King Nothing. Drum dan bass juga menjadi elemen melodis dari lagu (istilahnya groovy ya?), berbeda dengan dua lagu sebelumnya yang hanya dihasilkan departemen gitar. Lagu ini juga potensial disuka common fans, since hook-nya mudah diingat.

Ekspektasi setelah tiga preview? Better than St. Anger already. Meski nantinya bakal ended up di skala yang sama dengan Load/Reload, itu berarti album mendatang masih tetap worth-buying. Well, saya tentu akan mengantri di 13 September nanti untuk menikmati Death Magnetic secara utuh!

Second Coming

I have decided...

The more I have my post read, means more discussion [will be] following. So, open up for 4 branches (after Blogger, Multiply, and Opera)? Why not?

So, hereby I announce to reopen my Friendster Blog branch.

Second Notification

Sebelumnya pernah ngasih warning, tapi berkat beberapa comment yang masih eksis dan menunjukkan blog ini dibaca, maka blog yang pertama kali diisi sejak Friendster memperkenalkan fitur ini tetep mendapat porsi update.

Sekarang adalah notifikasi kedua. Mungkin bakal berubah jika FS mengubah policy blog-nya menjadi editable dan tampil lebih menarik tanpa harus bayar.

So...

Moving_notification

Bali Through My "Eyes"

Kuta_boulevard
Minggu lalu adalah kali kedua saya tetirah ke Bali. Pertama kali adalah pada saat saya SMA dulu bersama rombongan darmawisata, yang tentu saja kurang enjoy karena padatnya jadwal dan gegar-histeria yang ada pada saat itu. Sementara edisi kedua kali ini, berdua bersama istri saya, lebih longgar karena "nothing to lose" dan tanpa itinerari yang padat. Hanya dua hari, jadi kita sepakat tidak akan banyak menjelajah pulau Dewata. Hanya di daerah Kuta dan Legian, sekaligus tempat kita menginap di salah satu hotel yang terletak di bulevar pantai Kuta.

Kunjungan kedua, dengan latar yang berbeda, tentu akan meng-capture pengalaman yang berbeda pula. Kali ini "mata" saya lebih terbuka menangkan realitas yang disuguhkan dan membandingkan dengan berbagai cerita yang berseliweran sejak kunjungan pertama dulu, termasuk kisah teror bom Bali. Bali memang genuine. Rekaman genus loci di Bali masih sangat kuat aura-nya, yang bahkan modernitas di daerah Kuta sekalipun tidak mampu menggusurnya.

Bali juga fotogenik. Di kunjungan kedua ini, "mata" kedua saya, berupa instrumen kamera, mudah menangkap unsur-unsur yang layak untuk diabadikan dalam sebuah frame gambar. Secara natural, bentang alam dan harmonisasi bangunan di Bali sangat mudah dijadikan komposisi bentuk, garis dan warna. Dinamika masyarakatnya membentuk sebuah ceruk momentum yang sayang dilewatkan. Gurat tekstur fisik dan non fisik dari pertemuan alam pertama dan kedua di objek wisata unggulan Indonesia tersebut menimbulkan atmosfer kontemplatif, yang turut mengundang ratusan seniman asing untuk mewujudkan ilham mereka di sana.

Bali adalah festive. Setiap langkah dan deru masyarakatnya merupakan perayaan kehidupan di sebuah makrokosmos yang tersembul dalam wujud pulau di sebelah timur Jawa tersebut. Langkah riang maupun penghayatan atas tradisi dan agama yang mengakar dari masyarakatnya menarik minat berjuta mata asing yang kagum pada irama-irama tersebut.

Bali memang indah. Kali berikutnya, tentu akan lebih banyak lagi nuansa yang harus ditangkap oleh mata dan "mata" saya.

More photos: View my primary blog or visit My Flickr

PS: Thanks a lot buat teh Rena dan Aa' Ferry yang mau ngasih tumpangan nginep di Harris Hotel yang indah itu...hehehehe.

Bricks in the Wall

Anotherbrick

Dulu saya juga pernah membuat satu bulletin yang diedarin di kampus (bayar ongkos kopi 500 rupiah) soal edukasi. Saat itu ada temen saya dari Malang yang nyumbang tulisan, salah satunya membedakan secara "dekonstruktif" mengenai metode sinau dari kata "murid", "siswa" dan "santri". Kemudian ada bahasan tentang Paulo Freire dan sebagainya. Saya juga ingat banyak berdiskusi dengan teman kuliah saya. Postingan ini rada menostalgia untuk berdiskusi lagi tentang salah satu buah modernitas tersebut.

[We don't need no education - Roger Waters]
Ada satu quote yang beredar di situs "cult" yang kini telah wafat: KISS of Panopticon. Salah satu motto di komunitas itu adalah: "You were born intelligence, don't let education ruin it."

Di satu sisi, pendidikan memang bisa mengekang atau memberikan batasan-batasan sejauh mana yang harus kita pelajari. Kalo yang baca komik Kung Fu Boy tentu ingat di episode awal, guru Chin Mi mengumpamakan dua ekor belalang. Satu belalang hidup di kotak kecil selama seminggu, satunya lagi ditangkap dari alam bebas. Ketika dua-duanya dilepas bersamaan, belalang yang hidup di kotak kecil cuman bisa loncat-loncat pendek. Sementara belalang dari alam bebas bisa loncat jauh. Ternyata si belalang yang hidup di kotak tersebut telah "membuat definisinya" sendiri tentang sejauh mana dia harus loncat (akibat selalu terbentur kotak pada masa "pengurungannya"). Itu adalah analogi yang sangat bagus tentang pendidikan.

[Optimisme Kurikulum]
However, pendidikan juga bisa berarti membantu sebuah proses "pencerahan" secara massal. Tanpa pendidikan, mungkin, akan lebih susah untuk meletakkan fondasi-fondasi pengetahuan secara adil dan merata bagi banyak orang. Maka dari itu tetep diperlukan sebuah kurikulum, supaya dari yang paling kaya sampai yang paling miskin berhak mendapatkan porsi ilmu dan pengetahuan yang sama dari institusi pendidikan. Saya tidak akan menafikan manfaat yang saya peroleh dari pendidikan. Fondasi saya bisa menghitung 38x45 = 1710 adalah dari sebuah kurikulum tentang perkalian yang acap dipraktekkan dengan hafalan (mencongak dan sebagainya). Awal dari saya tahu 9x9 = 81 adalah dari hafalan, sebelum saya bisa menalar apa yang disebut dengan perkalian tersebut. Sama dengan bacaan sholat dan sebagainya yang juga harus dihafal supaya orang bisa lebih mudah menalar. Pelajaran sholat itu sendiri sebetulnya merupakan contoh nyata dari "kurikulum" yang ditetapkan Muhammad SAW. Semua orang wajib untuk melaksanakan sholat dengan bacaan-bacaannya, tanpa memandang bulu. Menghafal dulu pada tingkat dasar, sampai nantinya adalah menikmati pengalaman rohaniah yang membawa seseorang dekat dengan Sang Khalik.

Pun demikian cara pandang saya dalam menyikapi institusi pendidikan. Pendidikan dan sistemnya adalah sarana. Kita menerima paket ilmu sebagai fondasi, dan tentang kebenaran dan pengembangannya adalah berpulang pada kita sendiri. Ini juga merupakan konsep dari sculpture di depan kampus yang saya rancang bersama Dodi. Adalah kebebasan bagi setiap individu untuk mengembangkan dirinya keluar dari batasan-batasan (simbolnya adalah pipa yang keluar dari kotak) yang selama ini dianggap sebagai pola ideal (digambarkan dengan kotak indah berwarna merah).

[Peran Pengajar]
Akan tetapi, akan lebih baik juga apabila dari kalangan pengajar bisa menerapkan apa yang dilakukan oleh John Keating dalam film "Dead Poet Society". Pendidikan (termasuk kurikulum di dalamnya), selain sebuah sistem paket, adalah improvisasi dan kontektualitas yang sangat dinamis. Mengajar si A dan mengajar si B tentu beda metode-nya, meski materi yang diajarkan sama. Di sinilah kelebihan sekolah alternatif yang lebih "personalised" sesuai denga preferensi orang yang ingin belajar di situ. Juga dorongan untuk meletakkan pemikiran bahwa apa yang dipelajari oleh si murid itu hanyalah sebuah dasar, pengembangannya harus kita temukan sendiri di alam luar.

Pemerintah, melalui departemen dengan kurikulumnya adalah metode mereka melihat cara untuk membangun fondasi bangsa lewat satu paket yang dianggap mampu dipelajari oleh umumnya bangsa Indonesia. Mereka melihat secara general, dari angka statistik (berapa persen anak 7 tahun-an yang udah bisa baca ABCD, dan sebagainya). Implementasinya berpulang pada golongan yang sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka yang menyandang beban titel mahaberat karena disarikan dari orang yang menyandang kebijakan ilahiah untuk memberikan pencerahan kepada manusia: guru.

[Iqra']
Jadi, kesimpulannya: pendidikan (sebagai sebuah sistem) adalah hak. Sementara, menjadi pintar, berilmu dan berpengetahuan adalah wajib (fardlu ain).

Sampai sejauh mana kita belajar? Tuhan menegaskan (dan mewajibkan) untuk menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dan pengetahuan dengan "membaca" (iqra) apapun yang ada di alam semesta.  Alam semesta tak berbatas, artinya pengetahuan yang disediakan Tuhan juga nirbatas.

Dan ada lagi satu mediator antara dua premis tersebut di atas adalah yang dikatakan Muhammad SAW sebagai "...sampaikanlah ilmu walau hanya sebagian (se-ayat)". Artinya, ada satu kewajiban pula bagi kita untuk turut membantu orang lain pintar, berilmu dan berpengetahuan. Jadi, selain belajar, kita juga dituntut untuk bisa mengajar, apapun metodenya.

Satu quote tepat untuk menutup posting panjang ini:

Those who can, do!
Those who can't, teach!

"Lost World" di Indonesia

1_461_1 Indonesia adalah surga bagi penelitian biologi dan geografi. Setelah Galapagos, sebetulnya landasan revolusioner untuk teori evolusi banyak terjadi di bumi pertiwi kita ini. Sebut saja penemuan-penemuan di sepanjang alur sungai yang tengah menjadi headline saat ini, Bengawan Solo, yang mempertemukan argumen-argumen Eugene Dubois dan Von Koeningswald untuk menyingkap hidup spesies hominid. Atau ketika karib pena Charles Darwin, Alfred Russel Wallace, menyingkap pembagian biodiversitas fauna Asia dan Australia dengan garis Wallacea-nya. Kemudian Weber kembali membuat cengang dunia biologi dengan menemukan area transisi fauna di antara garis Wallacea di daerah Sulawesi dan Nusa Tenggara. Semua itu adalah elemen penting dalam pembelajaran mengenai teori evolusi, setara dengan "hotspot" lainnya seperti lembah retakan besar di Afrika Timur, dataran Patagonia, dan sebagainya.

Terakhir, pada 2007 lalu, sebuah penemuan baru di Nusantara dipublikasikan dalam jurnal-jurnal geografi dan biologi menyusul tersingkapnya "dunia yang hilang" di pegunungan Foja, yang masuk dalam teritori Papua Barat, yurisdiksi negara kita Indonesia. Di area tersebut, ada sekitar 300 ribu hektar hutan tropis yang diduga belum terjamah sama sekali oleh manusia. Beberapa spesies baru ditemukan di area tersebut, dan sebagai penguat asumsi zonder kehadiran manusia adalah mereka (fauna di "dunia yang hilang") tidak merasa takut dengan kehadiran manusia. Beberapa herbivora dan marsupialia yang ditemukan, tidak berontak ketika berhadapan langsung dengan spesies kita, yang notabene merupakan perusak nomer satu di jagad raya. Desember lalu, foto mencengangkan tentang sosok tikus raksasa yang digendong salah satu peneliti menjadi salah satu bukti eksotis dari ragam spesies-spesies baru yang ditemukan (foto). Termasuk katak kecil berukuran 14 mili, kanguru berbulu emas dan ragam spesies burung yang menambah khasanah biologi kita.

Fauna yang ditemukan di area tersebut adalah spesies-spesies baru yang berbeda dengan para sepupu mereka di wilayah lain. Nenek moyang dari satwa di sana mungkin sama, tetapi mereka mengalami evolusi akibat isolasi area tersebut dari daerah lain. Kasusnya adalah skala kecil dari teori retakan besar di Afrika, atau perubahan yang ditemukan Darwin di Galapagos. Daerah "dunia yang hilang" tersebut dulunya adalah sebuah danau, yang secara geografis lebih rendah dari kawasan-kawasan lain di sekelilingnya. Ketika danau mengering, kawasan tersebut berubah menjadi ekosistem hutan yang mendatangkan satwa-satwa di sekitarnya. Selama ribuan tahun, satwa yang berada di bekas danau tersebut tidak pernah keluar dari area tersebut dan berveolusi mengikuti habitat mereka. Seperti halnya fauna australia yang digariskan Wallace, spesies didominasi oleh burung dan marsupialia. Rata-rata masih memiliki ikatan genus dengan sepupu mereka. Misalnya kanguru pohon, possum, tikus, burung-burung tropis dan sebagainya. Hanya saja, bentuk morfologis mereka relatif berbeda dengan kerabat terdekat. Hal itu menunjukkan satu bab penguat dari teori evolusi yang berkembang sebagai akibat isolasi ekosistem dengan dunia luar.

Penemuan itu sontak menjadi perhatian internasional, dengan ekspedisi demi ekspedisi dikirim untuk menjelajahi area yang sejak 20 tahun lalu memang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Suku terdekat dari area tersebut, orang-orang Kwerba, mengaku tidak pernah lebih jauh menjelajahi hutan sampai ke area "dunia yang hilang" karena mereka meyakini kesakralan hutan perawan tersebut. Attitude tersebut setidaknya telah membantu melestarikan ekosistem langka tersebut untuk mempertahankan ragam biologi yang ada. Kini, kawasan Foja menjadi salah satu "hotspot" konservasi biodiversitas di seluruh dunia. Sebelumnya, Indonesia mempunyai beberapa "hotspot" yang sayangnya kini makin merana. Sebut saja kawasan Ujungkulon yang menjadi evidens evolusionis satwa Asiatis dengan ikon-nya badak bercula satu. Kawasan ini terus menyusut terdesak pemukiman manusia pulau Jawa yang memang rapid sekali pertumbuhannya.

Ancaman terbesar saat ini untuk kawasan Foja bukan perkembangan manusia. Tetapi, seperti halnya di Sumatera dan Kalimantan, kasus-kasus logging yang membabat satu demi satu kanopi tropis menjadi penyumbang susutnya populasi satwa di ekosistem heterogen tersebut. Degradasi alam liar di Indonesia adalah salah satu yang paling ekstrim di dunia. Saat ini, satwa-satwa di Foja tengah beradaptasi dengan kemunculan satu demi satu manusia yang rata-rata berprofesi sebagai peneliti yang mulai merambah hutan tersebut. Saya harap, mereka tidak akan bertemu dengan senapan atau gergaji mesin yang akan membantai ekosistem eksotik tersebut.

Indonesia adalah sebuah surga bagi banyak makhluk Tuhan. Rentang waktu dari era Koeningswald sampai penemuan di Foja adalah sumbangsih besar negara kita terhadap perkembangan teori evolusi, lingkungan dan kehidupan fauna. Saatnya dunia "mengakui" bahwa Indonesia adalah sebuah surga. Tetapi bola juga di kaki kita untuk mencegah sebuah episode "Paradise Lost" kembali terjadi di bumi pertiwi menyusul kabar kepastian punahnya harimau Jawa dan satwa-satwa yang musnah sebelumnya.

Photo source: National Geographic

2007 Playlist

Suzanne_vega Mengikuti fenomena budaya yang terjadi di awal tahun, rasanya sedikit flashback bisa membumbui postingan-postingan saya di blog ini. Kali ini flashback dalam hal musik sepanjang 2007 yang terekam dalam database situs Last FM. Situs tersebut meng-collect database lagu demi lagu yang saya mainkan melalui WinAmp komputer kantor yang selalu connect dengan internet. Setiap saya memainkan sebuah lagu, sebuah plugin akan broadcast data tersebut sebagai feeder kolek database di situs Last FM yang chart mingguannya bisa Anda lihat di kolom navigasi sebelah kanan blog ini.

Pearl Jam mendominasi playlist saya di sepanjang 2007 lalu (tentunya). Hal ini mungkin ditunjang dengan koleksi musik digital saya yang hampir 50% didominasi band asal Seattle tersebut. Oleh karena itu, tidak adil rasanya jika kategorisasi "award" ini berdasarkan lagu. Pearl Jam pasti akan mendominasi. Pilihan kemudian jatuh ke dua kategori, yaitu band/artis dan album. Band/artis pasti akan menghasilkan daftar yang indigenus, sementara album lebih representatif untuk memperlihatkan persebaran pola lagu.

Anyway, here it goes...

TOP 10 ALBUM of 2007
Banyak didominasi oleh Pearl Jam (teteup)...

01. Yield - Pearl Jam
Album kelima dari Pearl Jam yang dirilis pada 1998. Saya pertama kali kenal dengan album ini tepat dengan momen saya mulai "menggali" khasanah musik. Album ini adalah album pertama yang bisa saya cerna murni dengan konstan mendengarkannya kemudian menghasilkan apresiasi positif. Tak heran, sampai sekarang Yield masih bolak-balik masuk dalam playlist WinAmp saya, atau bahkan di CD player yang ada di rumah.

02. Lost Dogs - Pearl Jam
Kaget juga ketika menemukan fakta kompilasi B-Sides Pearl Jam ini betengger di urutan dua klasemen album. Saya hanya memutar beberapa lagu dari album ini, most notably Dirty Frank, Black Red Yellow dan Yellowledbetter, tetapi mungkin dengan frekuensi yang berulang sehingga mengantar scrobbling album ini di urutan kedua sepanjang 2007.

03. Versus - Pearl Jam
Album yang dirilis tahun 1993 ini adalah album yang hampir semua lagunya saya suka.

04. Garage Inc - Metallica
Full album Metallica satu-satunya yang saya punya dalam bentuk musik digital. Lagu-lagu lainnya tersebar tanpa preferensi khusus mana yang lebih banyak. Sebetulnya album favorit saya dari Metallica adalah "Ride the Lightning" (1984), album kedua mereka. Tetapi saya baru mendapatkan format digital beberapa lagu dari album tersebut di pertengahan tahun ini mungkin. Jadi justice hasn't been done. Tetapi objektifnya, saya masih sering scrobbling lagu-lagu dari Garage.

05. Ten - Pearl Jam
Album pertama Pearl Jam dan mungkin merupakan album favorit "sejuta umat" dari mereka yang juga menggemari Eddie Vedder dkk.

06. Vitalogy - Pearl Jam
Album favorit saya sepanjang masa. Entah kenapa hanya bertengger di urutan 6 sepanjang 2007 ini. Mungkin karena track-track eksperimental (Pry To, Aye Davanita, Bugs, Stupid Mop) yang lumayan banyak mendiami album ketiga Pearl Jam ini jarang saya putar sehingga secara signifikan mengurangi frekuensi putarnya. Meski demikian, lagu dari album yang dirilis pada 1994 ini, berjudul "Corduroy" mantap memuncaki chart per-lagu.

07. Trick or Treat (Live) - Nirvana
Bootleg favorit saya dari band populer 90-an. Ini adalah salah satu dari sedikit bootleg dengan kualitas bagus dari Nirvana yang beredar. Katalog lagunya masih didominasi lagu-lagu dari album Nevermind. However, yang menjadi favorit saya adalah rendisi Cobain atas lagu lama band punk Skotlandia yang beken kemudian hari dalam versi akustiknya: "Jesus Don't Want Me for a Sunbeam".

08. OST Snatch - Various Artists
Saya sangat suka dengan film arahan Guy Ritchie ini, sekaligus menggemari soundtrack-nya yang berisi seleksi lagu-lagu ilustratif, namun bukan sebuah score film. Beberapa lagu dari Oasis, Klint, Overseer, Johnston Brothers, Massive Attacks sampai Madonna menjadi latar yang bagus sekali dari film gangster ala Inggris tersebut. Selera Ritchie mungkin bisa disejajarkan dengan selera Quentin Tarantino yang juga terkenal berhasil memilih lagu-lagu memorable untuk film-filmnya.

09. A Sides - Soundgarden
Kompilasi "the best" dari salah satu band terbaik di era 90-an.

10. Official Live: 101 Proof - Pantera
Album konser yang mengantar saya menggemari Phil Anselmo cs. Saya membaca banyak review, waktu itu (sekitar 1998-an) tentang album-album Pantera dari sebuah majalah musik bekas, dan tertarik untuk mendalami permainan gitar almarhum Dimebag Darrell yang konon sangat signaturish dan compete dalam hal menciptakan riff-riff muscular ala James Hetfield. Album ini adalah standar yang tepat.

TOP 10 ARTISTS/BANDS
Daftar yang masuk lumayan "predictable". Meski demikian, rada kaget juga GNR, STP dan Helloween tidak mendelegasikan album-album mereka dalam jajaran album pemuncak tahun 2007 lalu. Here's the list:

01. Pearl Jam
02. Metallica
03. Guns N Roses
04. Nirvana
05. Stone Temple Pilots
06. Helloween
07. Dream Theater
08. Chris Cornell
09. Rage Against the Machine
10. Pantera

Facts don't lie. Itulah data yang terekam dari Last FM, hasil grab database WinAmp saya sepanjang 2007. Butuh informasi yang lebih luas tentang profil musik saya? Silahkan kunjungi pranala ini: Lukin99. Jangan lupa, add saya jika Anda sudah punya akun di Last FM. Happy 2008!

Happy New Heart

450model_37524_waita Happy new spirit everyone.

So, apa kabar tahun yang baru? Apakah resolusi-resolusi yang sering kita canangkan jelang pergantian tahun kemarin mampu mendorong etos kerja di hari (kerja) perdana 2008 ini?

Untuk saya, awal 2008 ini adalah kemalasan luar biasa hasil dari rentetan liburan yang merentang sepanjang dua pekan terakhir di 2007. Untuk beberapa alasan, mungkin saya menghabiskan hampir 75% momen recharging tersebut di atas tempat tidur. Diawali dengan tumbangnya badan saya semasa menjalani tetirah di kota Kembang akhir Desember lalu, yang memaksa bed rest, paling tidak untuk 3-4 hari. Dan diakhiri dengan kemalasan luar biasa untuk tidak beranjak dari kasur jelang pergantian tahun. Didukung dengan cuaca yang basah dan lembab, mengakumulasi atmosfer malas di seputar badan saya. Hari-hari hanya diisi dengan menonton televisi (yang acaranya memang lagi bagus-bagus di akhir tahun), memutar CD dan DVD, mengamati pandangan para peramal dalam menduga nasib para selebritis kita, serta makan.

Mungkin aktivitas malas itu adalah akumulasi dari serangkaian highlight sepanjang 2007 yang sangat berkah bagi saya. Tahun lalu yang baru saja kita tinggalkan adalah transformasi status saya dari seorang jejaka menjadi suami dari individu berkelamin perempuan bernama Gina Priadini, pada awal tahun ganjil penuh musibah bagi bangsa kita ini. Tahun lalu pula saya juga harus menyesuaikan secara perilaku dan psikologis dari jiwa liar menjadi lebih terkontrol. Tahun lalu pula kejenuhan luar biasa terhadap lingkungan kerja saya mungkin memuncak (sampai saat ini). Tapi tetap berkah ketika passionates saya, Pearl Jam dan AC Milan banyak memberi kebahagiaan (baca saja post-post lama saya di blog ini).

Memori dan kesan itu saya bawa di rangkaian 4 hari akhir 2007 dan sehari awalan 2008. Hanya bermalasan, zonder introspeksi atau setting resolusi seperti kebanyakan orang. Bagi saya, setahun adalah masa panjang yang penat dan perlu saya lepaskan melalui kegiatan yang relieve. Idealnya, saya dan istri saya hendak melewatkan pergantian tahun dengan serangkaian travelling. Dimulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan berakhir kembali di Surabaya untuk melanjutkan rutinitas membosankan di 2008.

Sayangnya, seperti yang kita semua simak di pemberitaan, akhir tahun lalu tidak beda dengan masa-masa sebelumnya yang sarat bencana. Paling konteks, adalah banjir dan longsor yang melanda perpanjangan sungai Bengawan Solo sehingga memutus kontak transportasi darat dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Hal yang krusial buat saya, karena jejalur itu adalah andalan utama dalam itnerari perjalanan jelang pergantian tahun kali ini. So, akhirnya rencana perseberangan Jawa Timur ke Jawa Tengah yang sedianya hendak dilakukan sebagai penghujung travelling terpaksa kita batalkan dan lebih cepat hadir di Surabaya sebelum pekan terakhir 2007.

Mungkin karena jiwa saya masih ada di "tempat lain" sehingga tidak ada hasrat dari saya untuk menyusur sudut kota Buaya sebagai kompensasi batalnya rencana perjalanan di luar kota. Jadilah agenda bermalasan mengisi akhir tahun 2007. Dan sekarang masih dalam suasana hangover, saya mencoba untuk mengisi lembaran baru di 2008 dengan memaksakan sebuah postingan tidak menarik sebagai simbol dari rutinitas-rutinitas yang harus saya busted setahun ke depan.

Tahun baru adalah perlambang dari momentum yang senantiasa bergerak. Meninggalkan mereka semua yang statis. Mengutip sedikit dari saduran sebuah lirik: -life is a motion, and I'm stuck in lines. Semoga ke-statis-an ini hanyalah temporer, dan saya bisa segera bangkit untuk mengikuti gerak hidup yang makin lama makin kencang.

Fiuh...

Happy Birthday...

9080_big 16 Desember 1899, klub bernama Associazione Calcio Milan Sportiva didirikan oleh seorang ekspatriat berkebangsaan Inggris bernama Alfred Edwards. Awalnya, Edwards (bersama kompatriot-nya Herbert Kiplin) hanya mendirikan klub tersebut untuk menyalurkan hobinya bermain kriket dan sepakbola. Oleh karena itu, dia menamai klub bentukannya dengan nama Milan Cricket and Football Club. Tentu Edwards tak akan menyangka jika 108 tahun kemudian klub yang mengambil corak salib Inggris, St. George Cross tersebut menjadi representasi klub tersukses di dunia dengan raihan titel internasional sebanyak 19 buah trofi.

Raihan terakhir AC Milan adalah Piala Interkontinental yang membawa mereka menjauh dari rival terdekatnya, klub Argentina Boca Juniors yang kebetulan menjadi lawan mereka di final kejuaraan antar klub di seluruh dunia tersebut. Sebelum laga, kedua klub sama-sama mengumpulkan raihan 18 trofi dengan masing-masing tiga di antaranya berasal dari kancah Piala Interkontinental yang resmi dibuka sejak 1960.

Sebuah kado yang sangat indah!

Photo courtesy of: AC Milan

September 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30        
My Photo

BlogComm

  • Blogger Version
    Versi full dari posting summary di blog ini. Go there. Jauh lebih interaktif.
  • Gina
    Istri gue inih...suka nulis dikit-dikit kalo lagi pengen komentarin sesuatu.
  • Jati
    Akhirnya penuangan segala bentuk imajinasi dan keresahan yang melanda dari sohib kuliah ini.
  • Nukky
    Calon wartwati jempolan inih. Rada berkepribadian ganda antara sisi serius dan ngocol. Hahahaha. Dulunya di Kumpas juga sama ky gw.
  • Fenty
    Diary yang cute, menyelami pemikiran cewek yang masi "neutral", so "homie".
  • Dee
    Sometime mumble through her blog, fascinated with her own mind and spoke out loudly.